• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Linkedin

Sunday, November 22, 2015

Aku dan Malam


Aku ingin peluk malam.

Aku tak pernah bisa membiarkan pagi menghabisiku. Aku punya beribu cara untuk menyingkir dari pagi. Memang tak selalu menang, tapi setidaknya aku pernah berhasil.

Aku selalu punya malam yang melindungiku dari pagi. Meskipun aku tak pernah bisa menggapai malam, namun malam selalu ada. Bayangkan jika tak ada malam…

Kamu tidak punya waktu memaafkan dirimu sendiri.
Tidak ada yang menemanimu. Semua orang terlalu fokus pada pagi.
Tidak ada dingin menyelimuti.
Tidak ada hati-hati yang redam akan amarahnya.

….dan tidak, tidak, tidak yang lainnya.


Di sisi lain, tidak selamanya malam itu baik. Buktinya dia rela bertukar tempat dengan pagi. Padahal aku tak suka pagi.

Aku ragu, tapi aku percaya malam selalu kembali. Sebentar, apa hanya aku saja yang berharap dia akan pulang? Pantas saja, belakangan hari ini malam tak muncul bersama bintang. Dia tak lagi menerangi. Pekat seperti kopi hitam.


Sekarang, aku kembali menanyakan pada diriku sendiri,
“Bisakah aku memeluk malam?”



Mungkin tak saat ini.
Nanti, aku akan temukan malam-ku.

0 comments:

Post a Comment

Contact

Get in touch with me


Adress/Street

Find me at kitabisa.com!

E-mail

kadiningtyas@gmail.com